50 Warga Negara Asing Ikuti Lomba Membatik Kreasi Logo Imigrasi

Kantor Imigrasi Kelas 1 TPI Yogyakarta menggelar lomba membatik untuk Warga Negara Asing (WNA). Lomba yang di ikuti sekitar 50 peserta WNA dari berbagai negara seperti Thailand, Amerika, China, Belanda, Vietnam, Yaman, dan berbagai negara lainnya menjadi peserta. Lomba digelar di Pendopo Kridha Batik Manunggal Budaya, Gadingan, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Minggu (20/1/2019).

Acara dibuka dengan tarian Rwanda asal Afrika Timur yang dibawakan oleh dua orang mahasiswa asal Afrika dan mengajak Kakanwill Kemenkumham DIY Krismono untuk bergabung ikut menari. Tak hanya tarian asal negara Afrika, berbagai tarian asal negara asingpun ditampilkan disini seperti tarian asal Thailand, negeri jiran Malaysia, dan Karawitan Bule dari Universitas ISI Yogyakarta.

Lomba batik ini digelar dalam rangkaian kegiatan memperingati Hari Bhakti Imigrasi ke-69, yang sebelumnya juga digelar agenda upacara di Taman Makam Pahlawan di Kusumanegara serta bakti sosial di panti asuhan yatim piatu.

Lomba membatik dengan menggambar logo kantor imigrasi, menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta WNA. Pasalnya tak hanya menggambar logo dengan canthing batik, namun WNA juga harus mengkolaborasikan dengan gambar kreatifitas mereka sendiri. Ada yang mengabungkan logo imigrasi dengan tulisan Arab, ada juga yang menambahkan logo negaranya, bahkan ada yang memblock seluruh kain mori sebagai warna dasar kain dan logo imigrasi.

Kepala Kanwil Kemenkum HAM DIY, Krismono mengatakan Lomba Membatik untuk WNA tersebut untuk memperkenalkan batik ke dunia internasional, dan juga ingin mengajarkan membatik kepada WNA.

“Nanti yang juara akan kami beri piagam dan karya mereka akan kami pamerkan di Kantor Imigrasi Jogja pada perayaan puncak Hari Bhakti Imigrasi ke-69,” kata Krismono

Saul Tellez Teheda perserta asal Meksiko mengaku sangat antusias mengikuti lomba membatik ini,dan sudah mendaftar dari jauh-jauh hari agar bisa mengikuti lomba ini dan berharap bisa menang.

“saya senang ikut lomba, karena memang saya kuliah ambil desain fashion di kampus ISI,dan saya ingin membatik dengan motif kesukaanku dikain itu” ujar Saul Tellez.

Saul menambahkan kesulitan dari membatik adalah kesabaran,karena lama menunggu malam yang harus cair dan harus pelan-pelan agar tidak luntur.

Tak hanya Saul, Julia WNA asal Jerman juga mengatakan tertarik mengikuti lomba membatik itu setelah dia menerima informasi salah satu temannya yang berada di Jogja.

“Saya belum pernah membatik sebelumnya. Saya mencari tahu bentuk-bentuk batik indonesia,dan saya sangat tertarik untuk belajar membatik. Karena saya cinta batik indonesia”, Ungkap Julia.

Pemenang lomba membatik akan di umumkan saat acara puncak hari bhakti imigrasi ke-69 pada 26 Januari 2019, dan pemenang akan mendapatkan undangan khusus untuk menerima penghargaan dari kantor imigrasi kelas 1 TPI Yogyakarta. (Magnetv.net/Citra)


Comment:

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Comment:

*Name