Fakta di Balik Sejarah Imlek Muncul di Indonesia

Awalnya imlek maupun tradisi Cina dilakukan secara tertutup ketika masa orde baru berlangsung. Melalui instruksi presiden nomor 14 tahun 1967 pemerintah melarang berbagai jenis kegiatan maupun segala hal yang berbau budaya Cina untuk dilakukan. Namun hal tersebut mulai tidak berlaku lagi setelah Presiden Abdurahman Wahid mencabut Inpres tersebut dan menindaklanjuti dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19 tahun 2001 tanggal 9 April 2001 yang menegaskan bahwa Imlek menjadi hari libur fakultatif. Kini Imlek menjadi salah satu Hari Raya Agama yang dirayakan secara besar-besaran tidak kalah dari Natal maupun Idul Fitri.

(foto by chinatown.uk)

Di Cina Imlek dikenal dengan nama pesta musim semi, sedang di Beijing dikenal dengan Chuenjie. Biasanya perayaan ini jatuh pada bulan kedua tarikh Masehi yaitu Februari. Jaman dulu tahun baru imlek dirayakan secara meriah dari 1-15 Cia-Gweei (15 hari) dan dirayakan sebagai hari raya Cap Go Meh. Dikenal juga dengan Sin Cia jatuh tanggal satu bulan Cia Gwee atau bulan pertama penanggalan tarikh Kongcu, yang menjadi sistem penanggalan dari Dinasti He 2205-1766 SM. Sistem penanggalan ini dihitung berdasarkan peredaran bulan dan matahari, hingga saat ini dikenal dengan penanggalan Imlek.

(warga thionghoa melakukan sembahyang / google)

Ada beberapa pendapat mengenai asal mula perayaan Imlek. Pertama Imlek dikaitkan dengan mulainya musim semi atau yang dikenal dengan Cun, sehingga kala itu untuk mengucapkan selamat Tahun Baru Cina dengan mengucapkan Sin Cun Kiong Hi. Pendapat kedua dikaitkan dengan kisah Giok Hong Siang Tee yang menitis ke muka bumi dan menjadi seorang Raja, sedang yang ketiga adalah hari lahirnya Bi Lek Huda atau O Mi To Hud atau A Mi Tou Fo yang berarti Buddha.

“Kebudayaan Cina hampir setiap zaman mempunyai tantangan terutama dari bangsanya sendiri. Oleh karena itu sistem pertahanan budaya bagi mereka adalah secara individu. Secara individu etnis Cina sangat menyukai dan menyenangi kebudayaan mereka sehingga kemanapun pergi, identitas budaya mereka akan tetap terlihat. Fenomena identitas budaya menunjukkan loyalitas mereka terhadap kebudayaan leluhur mereka walaupun hidup diperantauan,” tulis Rani Usman dalam Etnis Cina Perantauan Di Aceh. (Magnetv.net/KN)


Comment:

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Comment:

*Name