Gerebeg Maulid, Bukti Syukur Warga Jogja Terhadap Sang Maha Kuasa

Ribuan warga berdesak-desakan untuk berebut tujuh gunungan di halaman masjid agung Kauman Yogyakarta dan juga masjid Shultoni Kompleks Kepatihan. Acara yang dikenal sebagai Gerebeg Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut merupakan puncak rangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat.

Gelaran gerebeg Maulid Nabi ini dimulai dengan acara penyerahan gunungan oleh pemerintah DIY kepada abdi dalem Keraton. Ribuan warga masyarakat bersama para karyawan dan pejabat di lingkungan  Pemda DIY menghadiri  penyerahan  gunungan ‘pareden kakung’ dari Keraton  Yogyakarta di Bangsal Wiyoto Projo, Komplek Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (21/11).

Gunungan tersebut sebagai simbol sedekah Raja Keraton Yogyakarta kepada rakyat yang diterima kepada Sekda DIY Gatot Saptadi. Acara ini merupakan bukti kemanunggalan antara Keraton dengan pemerintah DIY.

Ada tujuh Gunungan yang menggambarkan sedekah raja kepada rakyatnya dan menyimbolkan kesejahteraan  yang terdiri dari tiga gunungan kakung, satu gunungan putri, satu gunungan gepak, satu gunungan pawuhan, dan satu gunungan darat.

Selanjutnya  lima gunungan diperebutkan di Alun-alun Utara , sedangkan dua Gunungan Kakung masing-masing dibawa ke Kantor Pemda DIY Kepatihan dan Kadipaten Puro Pakualaman Yogyakarta.

Gunungan Kakung yang dibawa oleh Kantor Pemda DIY diusung oleh sekitar 20 abdi dalem Gladhag dengan diiringi oleh dua ekor gajah. Di Kepatihan utusan Dalem Sultan Hamengku Buwono X yakni  KRT Widyo Condro Ismoyonngrat menyerahkan Gunungan Kakung kepada Sekda DIY Gatot Saptadi.

‘’Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan barokah keselamatan, kesehatan sehingga dapat menerima hajat Dalem Sultan Hamengku Buwono X yang berupa Gunungan Grebeg Maulud ini,’’tuturnya dengan bahasa Jawa.

Usai diterima dan didoakan, Sekda DIY mengambil secara simbolis gunungan yang terbuat dari hasil bumi Yogyakarta diantaranya: kacang panjang, cabe dan telur asin yang kemudian diserahkan kepada pejabat Pemda DIY lainnya. Para pejabat Pemda DIY eselon II dan III yang semuanya mengenakan busana tradisional adat Jawa pun juga mengambil secara simbolis gunungan tersebut.

Selanjutnya Gunungan dibawa ke halaman  depan Masjid Sulthoni Kepatihan untuk diperebutkan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya.

“Saya baru pertama kali melihat kegiatan budaya Yogyakarta ini. Saya senang sekali,”kata wisatawan asal Korea, Wang Sujin dengan bahasa Inggris dicampur dengan bahasa Indonesia. (Magnetv.net/ftl)


Comment:

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Comment:

*Name